De Real Purnawan Blog

Unified Modeling Language (UML)

April 24, 2008 · & Komentar

UML merupakan bahasa pemodelan yang digunakan untuk menggambarkan suatu aktifitas. UML dapat digunakan untuk memodelkan proses bisnis, tahapan proses pengembangan perangkat lunak, tahapan proses dalam berbagai sistem serta untuk memodelkan semua konstruksi yang mempunyai sifat statis dan dinamis.

Sudut pandang dalam UML menunjukkan aspek yang berbeda dari sebuah sistem yang dimodelkan. Sebuah sudut pandang adalah penggambaran yang terdiri dari sejumlah diagram. Dengan menentukan sejumlah sudut pandang, dimana masing-masing menunjukkan aspek tertentu dari sistem, maka penggambaran yang lengkap dapat dibangun. Sudut pandang dalam UML ditunjukkan pada Gambar berikut :

Gambar Sudut pandang UML

Modelling adalah proses pembuatan modul untuk merancang piranti lunak sebelum melakukan pengkodean. Model yang dibuat dalam proses rekayasa piranti lunak harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut.

a. Mengidentifikasi persyaratan-persyaratan (requirements).

b. Fokus terhadap komponen-komponen sistem yang berinteraksi.

c. Membantu melihat hubungan antar komponen.

Meningkatkan komunikasi antar anggota tim dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

a. Use Case Diagram

Use-case diagram digunakan untuk menggambarkan fungsionalitas yang diharapkan oleh sebuah sistem dan interaksi sistem dengan dunia luar. Diagram ini menjelaskan manfaat sistem jika dilihat menurut pandangan orang yang berada di luar sistem (actor)[15].

Gambar Contoh use case diagram untuk bisnis asuransi

Selama proses analisis, use case diagram digunakan untuk menangkap requirement sistem dan untuk memahami bagaimana sistem harus bekerja. Selama tahap desain, diagram ini menetapkan perilaku sistem saat diimplementasikan. Dalam sebuah pemodelan kemungkinan terdapat satu atau lebih use case diagram.

a. Class Diagram

Class diagram menggambarkan hubungan antar kelas dan penjelasan detail tiap-tiap kelas di dalam model desain dari suatu sistem. Kelas-kelas menggambarkan sesuatu yang ditangani dalam sistem. Hubungan antar kelas dalam bentuk asosiasi (terhubung antar kelas), dependensi (satu kelas tergantung atau menggunakan kelas lainnya), spesialisasi (satu kelas adalah sebuah spesialisasi dari kelas lainnya) atau pemaketan (tergabung menjadi suatu unit).

Sebuah class diagram menggambarkan semua hubungan bersama dengan struktur dalam dari kelas yaitu atribut dan operasi. Diagram dikatakan statis artinya bahwa struktur dideskripsikan sebagai valid dari pada semua posisi di dalam siklus kerja sistem. Contoh class diagram diperlihatkan pada Gambar berikut.

Gambar Contoh class diagram untuk transaksi keuangan[15]

Sebuah sistem umumnya memiliki sejumlah class diagram. Tidak semua kelas dapat dimasukkan pada class diagram, namun sebuah kelas dapat berpartisipasi dalam beberapa class diagram.

a. Activity Diagram

Activity diagram memodelkan berbagai alur kerja yang menunjukkan urutan aliran suatu aktifitas. Suatu aktifitas dapat direalisasikan oleh satu use case atau lebih, aktifitas menggambarkan proses yang sedang berjalan, sedangkan use case menggambarkan bagian actor menggunakan sistem untuk melakukan aktifitas.

Contoh activity diagram adalah sebagai berikut.

→ 3 CommentsKategori: software engineer

MODEL SEKUENSIAL LINIER

April 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Model sekuensial linier untuk software engineering yang disebut dengan siklus kehidupan klasik atau model air terjun. Model ini mengusulkan sebuah pendekatan kepada perkembangan software yang sistematik dan sekuensial. Dimodelkan setelah siklus rekysa konvensional, model sekuensial linier melingkupi aktivitas-aktivitas sebagai berikut[13][14] :

1. Feasibility

Kerja dimulai dengan membangun syarat dari semua elemen sistem dan mengalokasikan beberapa subset dari kebutuhan ke software tersebut. Pandangan sistem ini penting ketika software harus berhubungan dengan elemen-elemen yang lain seperti software, manusia, dan database. Rekayasa dan anaslisis sistem menyangkut pengumpulan kebutuhan pada tingkat sistem dengan sejumlah kecil analisis serta disain tingkat puncak. Rekayasa informasi mencakup juga pengumpulan kebutuhan pada tingkat bisnis strategis dan tingkat area bisnis.

2. Analisis kebutuhan Software

Proses pengumpulan kebutuhan diintensifkan dan difokuskan, khusunya pada software. Untuk memahami sifat program yang dibangun, analis harus memahami domain informasi, tingkah laku, unjuk kerja, dan interface yang diperlukan. Kebutuhan baik untuk sistem maupun software didokumentasikan dan dilihat lagi dengan pelanggan.

3. Desain

Desain software sebenarnya adalah proses multi langkah yang berfokus pada empat atribut sebuah program yang berbeda; struktur data, arsitektur software, representasi interface, dan detail (algoritma) prosedural. Proses desain menterjemahkan syarat/kebutuhan ke dalam sebuah representasi software yang dapat diperkirakan demi kualitas sebelum dimulai pemunculan kode. Sebagaimana persyaratan, desain didokumentasikan dan menjadi bagian dari konfigurasi software.

4. Implementasi

Desain harus diterjemahkan kedalam bentuk mesin yang bisa dibaca. Langkah pembuatan kode melakukan tugas ini. Jika desain dilakukan dengan cara yang lengkap, pembuatan kode dapat diselesaikan secara mekanis.

5. Pengujian

Sekali program dibuat, pengujian program dimulai. Proses pengujian berfokus pada logika internal software, memastikan bahwa semua pernyataan sudah diuji, dan pada eksternal fungsional, yaitu mengarahkan pengujian untuk menemukan kesalahan-kesalahan dan memastikan bahwa input yang dibatasi akan memberikan hasil aktual yang sesuai dengan hasil yang dibutuhkan.

Gambar Software engineering model Waterfall

→ Tinggalkan KomentarKategori: software engineer

Guru (PNS/NON), Jadi Guru Kontrak ?

April 18, 2008 · 1 Komentar

Rumor yang berkembang tentang Perubahan status Guru baik PNS maupun honor untuk di sejajarkan menjadi Guru Kontrak cukup menarik perhatian temen-temen baik guru maupun bukan, tanggapan saya adalah ……..:

Bagi sy, selama ini untuk kepentingan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia dan peningkatan kesejahteraan guru sepertinya perlu dipertimbangkan, hanya perlu diperhatikan :
a. Kepastian sistem yang akan dilakukan, karena spertinya dinegara kita ini serba coba-coba (latah-latahan). Belum tentu apa yang dilakukan negara lain berhasil dapat berhasil pula di negara kita.
b. Kemampuan Negara….. benarkah mampu dr segi anggaran maupun operasional sistem ini.
c. Sudah seberapa siap seluruh sdm dan institusi d negara kita…. sepertinya sangat jauh dari siap terutama menyangkut kualitas dan mentalitas.

Sy kira permasalahan di negara kita tidak hanya masalah guru, contoh :
1. Sekolah-sekolah (baik negeri maupun swasta) banyak yang tidak memiliki fasilitas belajar dan praktek yang layak.
2. Standar pelayanan sekolah berbeda-beda. Coba klo sekolah mengambil konsepnya mc-donal, maka sekolah di Jakarta maupun sekolah di pelosok pasti sama pelayanannya (terstandard).
3. Boleh dikatakan tidak ada fungsi pengawasan/kontrol proses pelayanan sekolah. Fungsi pengawasan/kontrol selama ini tidak berjalan pa………, Ini kembali ke permasalahan mentalitas perangkat. Karena kalo ada sy yakin dengan begitu banyaknya program bantuan yang digulirkan oleh depdiknas pasti kualitas pendidikan di negara kita akan lebih baik.
4. Sy sering melihat sekolah yang katanya standar nasional atau internasional pada kenyataannya tidak demikian. Sering kali sy mendengar :”yang penting kan dapet bantuannya”. Sy kira disini depdiknas perlu membeli perangkat kamera yg bagus yang dapat melihat secara nyata dan akurat kondisi sekolah yg sebenarnya.
5. Disisi kebijakan pusat, jangan asal menelorkan program atau gagasan hanya ingin mengeluarkan anggaran saja. Contohnya : Ada program pusat yang selalu tumpang tindih diantara beberapa divisinya sendiri, mestinya kan saling mendukung dan saling melengkapi.
6. Apakah ada masterplan pendidikan di negara kita?, klo ada ya tinggal dilaksanakan secara baik sesuai dengan aturan mainnya.

Sy kira ide guru kontrak ini pun jangan hanya berpikir sesaat dan emosional, perlu dipikirkan secara matang , research, dan uji coba yang baik. Contohnya sertifikasi guru dan dosen sampai sekarang kan belum ada tidak lanjutnya, klo saja konsep ini dilaksanakan secara baik pasti akan diperoleh kualitas pendidikan yang menigkat. Semuanya kan sudah ada aturan mainnya, ya jalan kan saja dulu yang sudah bergulir…..,

Kelemahan di kita, program yang satu belum tuntas sudah muncul lagi program lain yang identik. Padahal belum diketahui baik/buruknya program yang lama itu. Ganti Pimpinan Ganti Kebijakan.

Hemat saya…
Jalankan saja program yg sudah ada secara baik dan adakan fungsi pengawasan/kontrol yang maksimal, sesuai dengan aturan yang ada, evaluasi program dipublikasikan ke umum spy semuanya dapat ikut berpasrtisipasi demi kemajuan pendidikan di negara yg kita cintai ini.

Trima kasih….
Bangkitlah Pendidikan di Indonesia………!!!!

→ 1 CommentKategori: Uncategorized

Terobosan P’GHP di SEA.EDU.NET

April 18, 2008 · 1 Komentar

Mengutip Tulisan Pa GHP di Sea.edu.net (http://gatothp2000.wordpress.com/2008/02/27/seaedunet/) sebagai berikut :

“SEA EDU NET, jardiknas nya asean, dimana sekolah yg terbaik di indo, dan asean akan terhubung oleh intranet dan internet, melalui satelit yg sedang kita siapkan..tahun ini…harapan kita jenjang sekolah level smp, sma, smk,ma, pt, poli, lembaga kursus, p4tk/training center di indonesia akan terhubung dgn teman yg sejenjang di tingkat ASEAN..sehingga terjadi pertukaran informasi antar institusi pendidikan asean…sasaran kita 150 pt, 500 sekolah, 25 lembaga training guru, 250 lembaga kursus dll yg sejenjang….dalam sistem yg singkatannya SEA.NET ..jadi sekolah2 di indonesia yg aktif guru,murid,sek. berkomunikasi melalui it akan kita ajak utk bergabung dalam konsorsium sea.net.”

Ini terobosan yang sangat sy impikan dari dulu pa……

Sy yakin ini akan banyak memberikan solusi terhadap dunia pendidikan di Indonesia baik secara kualitas maupun kuantitas. Mungkin kita mesti sambil mempersiapkan sistem e-learning yang pas dan konten yang berkualitas di jaringan kita sendiri (jardiknas). sy yakin dengan pijar kemarin banyak karya temen2 guru yang layak, apalagi kalo ada program lagi yang menggiring temen2 guru berpotensial/berkualitas u aktif menyumbangkan karya nya. Contoh : dengan mengadakan lomba blog guru atau blog sekolah.

Khususnya untuk SMK atau bidang keteknikan, sy punya pemikiran membangun sistem e-learning berbasis web dengan memanfaatkan konsep pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Mengingat selama ini saya melihat bahwa :
a. Jumlah SMK tidak sebanding dengan jumlah siswa, apalagi dengan kebijakan depdiknas tentang perbandingan smk/sma 70:30
b. Jumlah Guru tidak sebanding dengan jumlah siswa.
c. sekolah belum terstandar seluruhnya.
d. banyak SMK yang tidak memiliki fasilitas praktek yang memadai
e. kualitas guru yang mengajar tidak merata bahkan ada di suatu sekolah beberapa guru menangani matapelajaran yang tidak sesuai dengan bidangnya.

Maka dari itu implementasi e-learning dengan model PBL di Indonesia merupakan alternative yang perlu dipertimbangkan. Karena model PBL mendorong penerapan Teknologi Informasi (TI) secara nyata sesuai dengan kegiatan sebenarnya, yang secara alami membuat sibuk peserta di dalam kegiatannya. TI mempertimbangkan kreatifitas produk yang dengan mudah dapat diaplikasikan di dalam ataupun di luar sekolah/program. Juga dapat memperluas berbagai kemungkinan riset, membiarkan para pelajar untuk menghubungi ahlinya di manapun di dunia (sepanjang mempunyai akses e-mail/chat), dan membuat proses lebih memotivasi pelajar untuk menciptakan kinerja yang lebih baik. Penerapan PBL yang baik dapat memberikan kemampuan yang bermanfaat bagi pelajar seperti pada :
Communication skills, Time management skills, Information skills, Computing skills, Teamwork skill, Thinking skills, dan Problem solving skills.

Dengan memanfaatkan fasilitas yang ada pada lingkungan e-learning berbasis web secara maksimal, pembelajaran model Web Project Learning diharapkan dapat lebih menumbuhkan motivasi dan berkolaborasi di dalam mengikuti kegiatan pembelajarannya. Ketika pelajar terkonsentrasi dalam permasalahan dan aktif dalam penyelesaian proyek baik kelompok maupun individu, maka beberapa manfaat dapat diperoleh diantaranya peningkatan kemampuan, wawasan, keluwesan berkomunikasi, cara berfikir, membuat keputusan, penyelesaian masalah, penggunaan teknologi informasi, dan berbagai manfaat lainnya.

mudah2an bermanfaat.
Maju terus IT Pendidikan Indonesia……, dengan IT pendidikan akan semakin berkualitas..
Trimakasih,

→ 1 CommentKategori: Inovasi

Desain Penulis: Deskripsi Model PBL / Pembelajaran Berbasis Proyek

Desember 18, 2007 · & Komentar

Berdasarkan kegiatan pengajar dan pelajar dalam pendekatan PBL, maka PBL yang akan dibuat di dalam lingkungan web terbagi dalam tiga tahapan yakni persiapan, pembelajaran dan evaluasi, tetapi dari tiga tahapan tersebut dapat dideskripsikan menjadi enam tahapan sebagai berikut.

a.Persiapan
Pengajar merancang desain atau membuat kerangka proyek yang bermanfaat dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pelajar dalam mengembangkan pemikiran terhadap proyek tersebut sesuai dengan kerangka yang ada, dan menyediakan sumber yang dapat membantu pengerjaannya. Hal ini akan mendukung keberhasilan pelajar dalam menyelesaikan suatu proyek dan cukup membantu dalam menjawab pertanyaan, beraktifitas dan berkarya. Kerangka menjadi sesuatu yang penting untuk dibaca dan digunakan oleh pelajar. Oleh karenanya, pengajar harus melakukan perannya dengan baik dalam menganalisa dan mengintegrasikan kurikulum, mengumpulkan pertanyaan, mencari web site atau sumber yang dapat membantu pelajar dalam menyelesaikan proyek, dan menyimpannya di dalam web.

b.Penugasan/menentukan topik.
Sesuai dengan tugas proyek yang diberikan oleh pengajar maupun pilihan sendiri, pelajar akan memperoleh dan membaca kerangka proyek, lalu berupaya mencari sumber yang dapat membantu. Dengan berdasar pada referensi alamat web yang berisi materi relevan, pelajar dengan cepat dan langsung mendapatkan materi yang berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan proyek. Lalu pelajar berupaya berpikir dengan kemampuannya berdasar pada pengalaman yang dimiliki, membuat pemetaan topik, dan mengembangkan gagasannya dalam menentukan sub topik suatu proyek.

Gambar Blok diagram tahapan dalam PBL.

c.Merencanakan kegiatan.
Pelajar bekerja dalam proyek individual, kelompok dalam satu kelas atau antar kelas. Pelajar menentukan kegiatan dan langkah yang akan diambil sesuai dengan sub topiknya, merencanakan waktu pengerjaan dari semua sub topik dan menyimpannya di dalam web. Jika bekerja dalam kelompok, tiap anggota harus mengikuti aturan dan memiliki rasa tanggungjawab. Sedangkan pengajar berkewajiban menyampaikan isi dari rencana proyeknya kepada orang tua, sehingga orang tua dapat ikut serta membantu dan mendukung anaknya dalam menyelesaikan proyek.

d.Investigasi dan penyajian.
Investigasi disini termasuk kegiatan : menanyakan pada ahlinya melalui e-mail, memeriksa web site, dan saling tukar pengalaman dan pengetahuan serta melakukan survei melalui web. Dalam perkembangannya, terkadang berisi observasi, eksperimen, dan field trips. Diskusi dapat dilakukan secara sinkron dan asinkron melalui chating. Lalu penyajian hasil dapat berupa gambar, tulisan, diagram matematika, pemetaan dan lain-lain. Secara rutin, orang tua dan pengajar berkomunikasi untuk memantau kegiatan dan prestasi yang dicapai oleh pelajar.

e.Finishing.
Pelajar membuat laporan, presentasi, halaman web, gambar, dan lain-lain. Sebagai hasil dari kegiatannya. Lalu pengajar dan pelajar membuat catatan terhadap proyek untuk pengembangan selanjutnya. Peserta menerima feedback atas apa yang dibuatnya dari kelompok, teman, dan pengajar. Fasilitas feedback online disajikan untuk memungkinkan setiap individu secara langsung berkomentar dan memberikan kontribusi, dan agar dilihat dan bermanfaat bagi orang lain.

f.Monitoring/Evaluasi.
Pengajar menilai semua proses pengerjaan proyek yang dilakukan oleh tiap pelajar berdasar pada partisipasi dan produktifitasnya dalam pengerjaan proyek.

→ 11 CommentsKategori: Project Based Learning